Tegar Rimba

Adalah sebuah kerajaan bernama Pasundan Trijaya, di dekat situ Patenggang di Jawa Barat, yang makmur dan kaya raya negerinya oleh hasil tambang berlimpah. Pasundan Trijaya itu dinasti pada masa Mahbhrata abad ke delapan Masehi, yang membangun Trijaya dengan menara dan tembok tinggi. Trijaya IX raja yang mulai berkuasa pada abad dua belas, pada saat Trisumo, raja yang arif dan disenangi rakyatnya itu mangkat. Lalu muncullah Trijaya naik takhta menggantikan pamannya, sebab tiada anak lelakinya. Sejak itu didirikannyalah armada perang yang kuat dan besar, karena dendamnya pada kerajaan seberang, Doda, bangsa Lengka, yang suka mencuri perak dan bulus akalnya. Pada saat itu majulah barisan utusan raja Doda ke pintu gerbang Trijaya, hendak mengklaim rawa Sudra sebagai milik mereka, daerah taklukan Lengka, raja mereka pada masa Perang Sentul di Jotam. Ketika disampaikan seorang pengawal istana kabar itu ke telinga Trijaya, bangkitlah murkanya dan mengamuklah ia pada seluruh pegawainya, kemudian menggerakkan segenap pasukan untuk berjaga di batas Parangitam, wilayah bangsa Lengka, untuk menggertak Surya, raja Doda itu.
Trijaya itu telah mati isterinya, dan anak dari gundik-gundiknya tiada laki-laki. Maka diangkatnyalah Cempaka Triwardani, anaknya dari salah seorang budaknya perempuan, menjadi puteri kerajaan yang mewarisi hartanya, sebab pandai akalnya dan elok parasnya. Puteri Cempaka dibesarkan dengan keras; dididik dan dilatih segala hal dengan disiplin tanpa ampun, hingga tak tahan lagilah dia dan jadi tawarlah hatinya pada ayahnya. Ketika dilihat Puteri Cempaka Triwardhani, bahwa sedang riuh dan tak terkendali seluruh kerajaan itu, pergilah ia menghadap paduka raja menanyakan situasi negeri itu. “Apakah yang tuanku lakukan terhadap Lengka kali ini?” Tetapi Trijaya membentaknya, “Apakah urusanmu, Cempaka Triwardhani, sehingga engkau lancang menegurku? Pergilah, sebab tak lama lagi muakku dan geramku pun akan tumpah menimpamu!” Maka marah dan menangislah Cempaka Triwardhani seraya meninggalkan ayahnya, sebab akan hebat pertumpahan darah dan kemiskinan yang terjadi jika negeri ini meletuskan perang. “Telah kuketahui watak ayahku dan tidak akan ada yang sanggup menghalanginya.” Orang Pasundan itu gagah dan tinggi perawakannya, dan para wanitanya kuat bekerja. Jadi berkemaslah puteri Cempaka Triwardhani malam itu juga, dengan berdandan seperti rakyat, menyusup ke pintu belakang menuju tembok perbatasan, pergi meninggalkan istana kerajaan.
Adapun seorang laki-laki bernama Tegar Rimba, dari bani Lengka, yang menetap di selatan Sailendra bersama ibunya yang telah sakit menahun. Ketika dikatakan ibunya kepadanya tentang suatu rempah-rempah yang manjur bagi penyakit wanita itu, pergilah ia keesokan harinya untuk mencari ramuan itu di pasar. Saat itu sudah tiga hari lamanya sejak raja Trijaya mengeluarkan titah untuk mencari puteri Cempaka Triwardhani yang hilang dari istana, ke seluruh penjuru negeri itu, termasuk ke seluruh wilayah Doda, sebab dianggapnya itu rupa penculikan.
Kemudian sampailah Tegar, pemuda Lengka itu, tepat pada saat terbit fajar di pasar, dan disaksikannyalah lelaki-lelaki Pasundan tersebar di tiap-tiap sudut pasar. Lalu terdoronglah tubuhnya oleh seorang pria Pasundan, yang dengan angkuh berkata: “Minggirlah, mengapakah kau menghalangi jalanku?” Lalu jawab Tegar, “Apakah yang tuanku bersama rombongan tuanku cari di tempat ini?” Kemudian tertawalah pria Pasundan itu seperti orang mabuk, katanya: Aku mencari puteriku Cempaka Triwardhani. Tidak tahukah engkau anak muda, kepada siapa kaubicara ini?” Tetapi jawab Tegar: Mengapakah orang asing ini mendapat kehormatan dengan diperhatikan tuanku Pasundan?” Kemudian tersadarlah pria Pasundan itu dan diusirnyalah Tegar dari mukanya, sebab dilihatnya anak itu lemah. Pada zaman itu orang selatan dianggap bagian kerajaan Doda, sebab miskin wilayahnya dan jelata rakyatnya, meskipun jaraknya lebih dekat dengan Kerajaan Trijaya.
Kemudian melangkahlah Tegar ke penjual rempah-rempah, tak jauh dari tempatnya tadi bertemu pria Pasundan itu, dan pada saat itu dilihatnyalah seorang wanita berdiri di sebelahnya; wanita itu bertudung kain hitam, hanya kelihatan bawah matanya, juga hendak membeli rempah-rempah. Ketika rempah-rempah itu diberikan kepada Tegar dan dia hendak berbalik pergi dari situ, diulurkan wanita itulah tangannya menyentuh Tegar, sehingga Tegar menoleh kepadanya. Tetapi wanita itu masih bersembunyi muka di balik tudungnya, sehingga hanya mulutnya yang kelihatan. Pada saat itu juga ditariknya lengan Tegar dan dirapatkannya tubuhnya ke laki-laki itu. “Tolong, lindungilah aku,” bisik wanita itu. Maka dilindunginyalah wanita itu, seperti yang dikatakannya, sambil mereka berjalan meninggalkan pasar. Sesampainya mereka di jalan yang sepi dan berhenti di sana, berkatalah Tegar kepada wanita itu: “Siapakah dirimu, hai perempuan?” Ketika wanita itu menanggalkan kainnya, pucatlah muka wanita itu, sebab tampan pria itu. Lalu ia menunduk, “Akulah puteri Cempaka Triwardhani, yang dicari orang-orang tadi. Sebab aku pergi dari singgahsanaku.”
Diamlah Tegar selama beberapa saat, sehingga wanita itu bertanya kepadanya: “Mengapa engkau diam?” Jawab Tegar: “Apakah yang harus kuperbuat kepadamu?” Lalu kata Cempaka, “berlarilah, bawa aku ke suatu tempat persembunyian. Aku akan berjalan cukup jauh di belakangmu supaya orang yang melihat tidak menaruh curiga. Sebab engkau ini bujangan.”
Kemudian berjalanlah keduanya cepat-cepat, kira-kira tujuh kaki selisih jarak mereka, melewati sebuah padang dan setelah itu masuk ke hutan belantara. Ketika sampai mereka di sana, berhentilah Tegar untuk menunggu wanita itu datang mendekat. Lalu kata Tegar: “Aku akan membawamu ke rumah ibuku. Sesudah itu aku akan menunjukkan tempat persembunyian bagimu.”
Tibalah mereka di rumah ibu Tegar, dan setelah memberikan rempah-rempah itu pada ibunya, memohon izin dan doa restu ibunyalah Tegar untuk pergi menemani Cempaka dalam pelariannya. Dan sesudah itu mereka pergi dari sana.
Selama beberapa waktu tinggallah puteri Cempaka bersama Tegar di gubuk peristirahatan Tegar, tempat di mana lelaki itu menaruh serta mengurus ternak-ternaknya di sana, di dekat suatu lembah, jauh dari pemukiman. Ketika dilihat oleh Cempaka selama itu bahwa Tegar giat mengurus kambing-kambingnya, datanglah ia kepada Tegar, serta berkata: “Ikutlah bersamaku ke istana raja Doda. Engkau akan berpura-pura sebagai budakku, dan aku akan berbuat sesuatu terhadapnya.”
Maka menurutlah Tegar dan dibawanyalah Cempaka keesokan paginya ke istana Lengka. Pada petang hari saat raja Surya turun ke teras atas istananya, berjalanlah Cempaka ke tepi dudukan pelataran mengantarkan buah-buahan ke meja raja. Dan pada saat itulah mata Cempaka bertemu dengan mata Surya, raja Doda itu, dan setelah itu berbaliklah Cempaka ke luar. Kemudian raja Surya memanggil seorang pegawainya, dan bertanya: “Siapakah pelayan yang mengantarkan buah kepadaku itu?” Lalu jawab pegawainya, “Dia seorang wanita Lengka yang tinggal di selatan. Baru pagi ini dia diterima bekerja oleh kepala pegawai tuanku.” Kemudian berkatalah raja Surya: “Suruhlah wanita itu menghadapku.” Tak lama kemudian datanglah Cempaka menghadap raja Surya. Ketika dilihatnya Cempaka, bahwa sangat cantik rupanya serta santun lakunya, diambilnyalah wanita itu menjadi isterinya. Tetapi Cempaka tidak ingin tidur dengannya, sehingga berjuanglah dia supaya terus membuat Surya di mabuk cinta hingga mau mendengar segala bujuk rayunya.
Ketika suatu hari ratu Cempaka bersama raja Surya di mahligainya, berkatalah wanita itu: “Aku telah mempekerjakan seorang budak laki-laki yang bisa kaujadikan serdadu untuk memimpin pasukanmu.” Kemudian dipanggillah Tegar bin Anusi, orang Lengka itu, pria yang diperkenalkan Cempaka sebagai budaknya ke semua orang, yang selama itu bekerja sebagai tukang batu di sekitar istana, untuk menghadap Surya beserta Cempaka. Lalu datang dan bersujudlah Tegar di hadapan keduanya, dan serta merta diangkat oleh raja Surya menjadi pemimpin pasukan yang akan berperang melawan Pasundan. Tetapi Cempaka menyarankan agar Tegar tidak diposisikan di barisan terdepan, supaya jangan mati. Dan setelah itu Cempaka bangkit dan pergi dari situ, sebelum selesai percakapan mereka.
Dan tibalah hari sepasukan tentara Trijaya, kira-kira dua ribu orang banyaknya, menyerbu perbatasan Kerajaan Lengka. Namun telah berjaga-jaga di setiap medan serdadu Lengka untuk menghadang mereka. Kemudian terpecahlah pasukan itu menjadi tiga kubu, dan yang paling semarak adalah saat serangan di muka gerbang Trijaya, tatkala yang berbadan besar dan kuat sibuk melawan kubu yang dipimpin Tegar Rimba bin Anusi di Sudra, batas Lengka dengan Trijaya. Tetapi dengan siasat Cempaka, bahwa suka mabuk pria-pria Pasundan lepas tengah malam, maka mudahlah dibodohi dan dikalahkan mereka. Dan sesudah itu masuklah seluruh tentara Lengka berbondong-bondong, dengan kegeraman meluap-luap memporak-porandakan seluruh kerajaan itu. Melihat situasi itu, amat gentarlah raja Trijaya, sehingga terus bersembunyi di tempatnya, sebab telah mati hampir seluruh tentaranya serta mengerikan murka bangsa Lengka itu. Hingga pada hari ketiga kerajaan Trijaya menjadi sunyi senyap oleh karena bersembunyi semua rakyatnya di dalam rumah, dan kerajaan itu menjadi dipegang kendali Tegar dan prajuritnya.
Tetapi di istananya, raja Surya terserang sakit keras, hingga akhirnya wafatlah dia sebelum perang antara Trijaya dinyatakan selesai.
Setelah dikremasikannya jasad raja Surya, pergilah Cempaka menemui Tegar, yang habis berminggu-minggu telah berjaga-jaga di seluruh wilayah Trijaya, dan berkata: “Ikutlah bersama denganku menemui Raja Trijaya, ayahku itu.” Dan bergegaslah Cempaka bersama Tegar menuju istana Trijaya, dengan segerombol prajurit Lengka mengawal mereka. Tetapi tiba di sana, disusul Cempaka-lah terlebih dulu seorang diri ayahnya ke dalam kamarnya untuk bertemu dan berbicara empat mata. Maka terkejutlah raja Trijaya, yang saat itu telah tampak menua dan berbaring di tempat tidur. Kata Trijaya: “Apakah yang telah engkau perbuat ini kepadaku, puteriku Cempaka? Mengapakah engkau menyusahkan hati ayahmu ini, sehingga putus asanya dan pecah pikirannya? Dan lihatlah, oleh sebab malang seluruh keadaanku kerajaan ini menjadi tumbang sampai Lengka meluluhlantakkan dan menginjak-injak aku seperti ini!” Maka menangislah Cempaka, dan menjawab: “Janganlah ayahku bersedih hati lagi, sebab aku ini puterimu. Mulai saat ini engkau tidak akan lagi pergi tanpa aku di sisimu. Dan aku tidak akan lagi pergi meninggalkanmu.” Dan berceritalah Cempaka mengenai raja Surya, yang telah dipersuamikannya selama kepergiannya, dan Tegar, pemimpin prajurit Lengka itu, lalu dengan kesediaan Trijaya diundanglah Tegar untuk masuk ke kamar itu. Kata Trijaya kepada Tegar: “Sebab tidak ada lagi harapan serta waktuku untuk membangun kerajaan untuk membalas menumpas engkau. Maka dari itu, bangkitlah engkau bersama Cempaka Triwardhani, puteriku, dan bangunlah bagi engkau, hai dua kerajaan yang telah menjadi musuh bebuyutan sejak dari kandungan nenek moyang, sebuah kerajaan baru yang tak lagi mengingat-ingat perkara masa lalu.”
Dan tak lama kemudian, matilah raja Trijaya, dan setelah kematiannya, pergilah Tegar beserta Cempaka ke hadapan seluruh rakyat Lengka dan Trijaya, untuk mengumumkan penyatuan dua kerajaan itu serta pengangkatan mereka sebagai raja dan ratu. Kemudian berserulah para tetua pemerintahan Pasundan: “Inilah raja dan ratunya yang akan memerintah negeri kita. Kiranya dilimpahkan hikmat dan kebijaksanaan untuk memimpin kita!”
Ketika malam itu mereka duduk di istana Lengka, berkatalah ratu Cempaka: “Aku telah menjadikan bangsa yang besar jauh lebih besar, bahkan sangat besar.” Tetapi raja Tegar menjawab: “Tidak. Dahulu Lengka lemah. Tetapi ia telah dikuatkan olehmu!”

*tokoh di dalam cerpen hanyalah fiktif belaka